Jumat, 10 Februari 2017

Jadilah Tukang Jahit

Filosofi tukang jahit.....




Ughh… kamu selalu begitu,”rutuk seorang kawan. Kamu memakai ukuran dan standardmu sendiri untuk segala hal. Mbokya kamu belajar dari tukang jahit!” Hmmm… tampaknya dia sedang lupa ingatan. Apa hubungannya sikap saya dengan tukang jahit? Belum selesai saya mencerna kalimatnya yang membingungkan itu, dia melanjutkan penjelasannya. “ ketika kamu datang ke tukang jahit, kamu pasti akan diukur terlebih dahulu. Semua orang diukur tanpakecuali. Tidak ada ukuran all size yang bisa dipakai untuk semua orang. Tiap orang unik, khas, dan tidak bisa disamakan dengan orang lain.,” tuturnya lancar. “Cobatempatkan diri sebagai tukang jahit. Lihat semua persoalan baik-baik sebelum menilai salah atau benar. Kenali dulu oranglain daripada langsung mengatakan mereka baik atau buruk. Bajumu belum tentu pas bagi orang lain.”Sindiran kawan di atas sangat tepat. Sadar atau tidak, sering kita menilai semua hal seperti ukuran diri kita sendiri. Kalau tidak sesuai, mudah sekali menyalahkan orang lain. Padahal, sangatlah mungkin ukuran yang kita percayai tak selamanya tepat.Filosofi sang tukang jahit sangat sederhana.Mengukur setiap orang sesuai ukurannya masing-masing, dan tidak sok tahu mengetahui ukuran orang lain meski sudahsangat berpengalaman soal ukur-mengukur. Namun, jika diterapkan, memunculkan sejumlah konsekuensi yang tak mudah diterima. Entah itu kesediaan menurunkan standard, kesabaran berproses, atau bahkan menerima kebenaran orang lain. Tidak mudah bukan?Diposkan oleh nendi suhendi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar